Kontroversi dalam industri video game kembali muncul dengan rilis Ghost of Yotei, sekuel dari Ghost of Tsushima yang dikembangkan oleh Sony. Permasalahan ini bermula saat pengumuman protagonis baru dalam sekuel tersebut, yaitu seorang samurai perempuan bernama Atsu. Keputusan untuk menampilkan karakter perempuan sebagai tokoh utama tampaknya memicu reaksi keras dari beberapa penggemar yang tidak setuju dengan perubahan ini.
Shawn Layden, mantan CEO Sony Interactive Entertainment America, turut memberikan komentarnya terkait kontroversi tersebut. Ia memberikan saran sederhana bagi para penggemar yang merasa kecewa, dengan mengatakan, “Jika Anda tidak menyukainya, jangan membelinya.” Pernyataan ini menggambarkan pendekatan pragmatis terhadap reaksi negatif yang muncul di komunitas pemain.

Banyak penggemar kecewa karena Ghost of Yotei tidak melanjutkan cerita Jin Sakai, protagonis dari game sebelumnya. Beberapa pihak menilai bahwa penggantian karakter utama dengan seorang perempuan dianggap sebagai upaya mempromosikan agenda tertentu, yang oleh mereka dikaitkan dengan isu keberagaman dan inklusi. Kontroversi ini semakin memanas di media sosial, dengan sebagian penggemar mengkritik pilihan pengembang.
Selain itu, Erika Ishii, pengisi suara Atsu, juga menjadi pusat perhatian. Sebagai sosok yang secara terbuka mendukung isu-isu LGBTQ+ dan identitas gender, ia menjadi sasaran serangan di dunia maya. Beberapa pengguna media sosial menuduh keterlibatannya memperkuat elemen “woke” dalam game tersebut, meskipun tuduhan ini tidak mendapat dukungan dari sebagian besar komunitas.

Namun, banyak penggemar lainnya tetap bersemangat menyambut sekuel ini dan tidak mempermasalahkan perubahan karakter protagonis. Mereka lebih tertarik untuk melihat inovasi cerita yang dihadirkan Ghost of Yotei dan bagaimana kelanjutan franchise ini akan berkembang















































